Ponorogo,Kabarnow.com,– RSUD Bantarangin Ponorogo kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan *Trusted Hospital* tahun 2026. Penghargaan ini diserahkan oleh platform media Karisedenan Madiun dalam sebuah acara yang digelar pada Selasa (29/9/2026).
Pencapaian ini merupakan buah dari peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Penghargaan diberikan setelah melalui proses verifikasi lapangan ketat oleh sejumlah kurator selama kurun waktu 2025 hingga 2026. Hal ini menjadi bukti nyata atas komitmen RSUD Bantarangin dalam terus mengembangkan layanan dan fasilitas demi memenuhi kebutuhan pasien di wilayah Ponorogo dan sekitarnya.
Direktur RSUD Bantarangin, drg. Enggar Tri Adji Sambodo, mengungkapkan bahwa indikator utama meningkatnya kepercayaan publik terlihat jelas dari lonjakan signifikan jumlah kunjungan pasien, khususnya di Unit Gawat Darurat (UGD).
“Jika pada tahun 2025 lalu, kunjungan UGD masih berada di kisaran 300 hingga 400 pasien per bulan, maka pada tahun 2026 ini angkanya melonjak menjadi sekitar 700 hingga 800 pasien per bulan,” ujar Enggar, Rabu (30/9/2026).
Selain lonjakan pasien UGD, tingkat keterisian tempat tidur atau *Bed Occupancy Rate* (BOR) di RSUD Bantarangin juga konsisten berada di atas 70 persen. Menurut Enggar, peningkatan volume pasien ini berjalan seiring dengan penguatan layanan spesialis dan modernisasi fasilitas rumah sakit.
Saat ini, RSUD Bantarangin telah didukung oleh delapan dokter spesialis yang mencakup berbagai bidang vital, yakni kebidanan dan kandungan, anak, penyakit dalam, jantung, radiologi, anestesi, bedah, serta patologi klinik.
Dari sisi infrastruktur, rumah sakit juga terus memperkuat fasilitas penunjang. Tersedianya layanan USG kandungan dan jantung, serta dua kamar operasi yang dilengkapi teknologi *Modular Operating Theatre* (MOT), dinilai sangat membantu dalam mendukung tindakan operasi mayor dengan standar keamanan yang lebih tinggi.
“Kami terus melengkapi fasilitas dan meningkatkan kemampuan layanan agar kebutuhan masyarakat bisa semakin banyak terakomodasi di RSUD Bantarangin,” tambah Enggar.
Tak hanya itu, RSUD Bantarangin juga memberikan perhatian khusus bagi peserta BPJS Kesehatan. Rumah sakit menyediakan layanan operasi caesar dengan metode *Enhanced Recovery After Cesarean Surgery* (ERACS) untuk semua kelas peserta (Kelas 1, 2, dan 3) tanpa dikenakan biaya tambahan. Metode ini dikenal dapat mempercepat pemulihan pasca-operasi.
Untuk penanganan kasus gawat darurat, RSUD Bantarangin menerapkan prinsip pelayanan terbuka. Pasien akan diperiksa dan distabilkan kondisinya terlebih dahulu di UGD. Rujukan ke fasilitas lain hanya dilakukan apabila pasien membutuhkan layanan spesifik yang belum tersedia di rumah sakit tersebut.
Menatap masa depan, manajemen RSUD Bantarangin telah menyusun rencana strategis untuk tahun 2027. Target utamanya adalah penguatan kapasitas layanan melalui penambahan tempat tidur rawat inap serta pengembangan klinik rehabilitasi jantung, khususnya bagi pasien pasca pemasangan ring.
“Kami juga terus menyesuaikan pengelolaan tempat tidur secara *mobile* sesuai dinamika kebutuhan pasien. Ke depan, penambahan kapasitas fisik dan tenaga kesehatan menjadi kebutuhan penting seiring dengan tren peningkatan kunjungan yang terus berlanjut,” pungkas Enggar.(nov)


